HAMBATAN PERKEMBANGAN MOTORIK PADA ANAK
(Anak berkebutuhan khusus)
Muhammad Umair Hafizudin
NPM : 20228500018
PENDAHULUAN
Masa Golden Age diyakini sebagai periode perkembangan yang sangat penting pada masa awal kehidupan anak. Makna periode keemasan mengandung makna bahwa setiap aspek fisik maupun psikologis yang ada pada anak mencapai perkembangan yang maksimal, sehingga merupakan hal yang tepat untuk memulai pemberian stimulus pada anak agar perkembangan optimal dapat terjadi. Pemberian stimulus tersebut akan memberikan dampak pada kehidupan di masa mendatang. Gangguan dan hambatan pertumbuhan dan perkembangan merupakan masalah yang serius bagi negara maju maupun negara berkembang di dunia. Pertumbuhan dapat dilihat dari berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, sedangkan perkembangan dapat dilihat dari segi emosional, kemampuan motorik, kemampuan sosial dan kemampuan berbahasa serta kemampuan kognitif (Astrid, dkk ,2021).
Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya dan selalu menunjukkan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan atau penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial dan emosional) dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusianya, sehingga memerlukan pelayanan yang khusus (Dermawan, 2018).
Salah satu pandangan paling awal tentang anak berkebutuhan khusus menekankan kepada perkembangan motorik kasar, perkembangan motorik anak berkebutuhan khusus terlihat sangat berbeda dengan teman seusianya. Anak berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagai anak yang memerlukan layanan khusus untuk dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik. Hal tersebut mencakup anak-anak yang mengalami permasalahan maupun yang memiliki kelebihan terkait tumbuh kembang yang berkaitannya dengan intelegensi, inderawi, dan anggota gerak (Khairun Nisa et al., 2018).
Gangguan adalah kelainan atau kekacauan fungsional yang membutuhkan terapi dan solusi untuk menjadi lebih baik lagi. Hambatan menurut KBBI diartikan sebagai halangan; rintangan. Hambatan merupakan sesuatu yang dapat mengalangi kemajuan atau pencapaian suatu hal.
Anak dengan kebutuhan khusus yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan fisik motoriknya terutama dalam motorik kasarnya. Olahraga taekwondo merupakan suatu pelatihan yang bertujuan untuk mengembangkan motorik kasar anak, taekwondo dapat meningkatkan perkembangan motorik kasar pada anak sepert kecepatan dan kekuatan.
Definisi Umum Perkembangan dan Pertumbuhan
Secara umum definisi perkembangan dan pertumbuhan memiliki pengertian yang sama yakni keduanya memiliki perubahan. Tetapi secara umum, pertumbuhan adalah mengacu pada perubahan yang bersifat kuantitas, sedangkan perkembangan lebih mengarah kepada kualitas. Artinya konsep pertumbuhan mengandung definisi sebagai perubahan ukuran fisik yang bersifat pasti, akurat yakni dari kecil menjadi besar. Sedangkan perkembangan diartikan sebagai akibat dari perubahan kematangan dan keisapan fisik yang memiliki potensi untuk melakukan suatu aktivitas, sehingga individu telah mempunyai suatu pengalaman (Hasanah, 2016).
Perkembangan motorik menurut (Maulana & Nurunnisa, 2018) adalah suatu proses tumbuh kembang yang terjadi pada setiap anak dalam kemampuan menggerakkan anggota tubuhnya. Perkembangan motorik pada anak merupakan salah satu aspek yang perkembangannya sangat terlihat menonjol dibanding aspek-aspek perkembangan yang lain, maka itu perkembangan motorik kasar dapat mengintegrasikan perkembangan yang lainnya (Istiqomah & Suyadi, 2019).
Motorik kasar merupakan gerakan yang melibatkan kerja dari otot besar atau seluruh anggota badan yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri. Perkembangan motorik selalu beriringan dengan proses pertumbuhan secara genetik atau kematangan fisik anak, contohnya kemampuan duduk, berdiri, berlari, menendang bola, menari dan sebagainya (Setyawan et al., 2018).
Gangguan belajar anak adalah masalah yang mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima, mengolah, menganalisis, atau menyimpan informasi, sehingga memperlambat anak dalam perkembangan akademik. Biasanya gangguan belajar pada anak ini berhubungan dengan perkembangan balita pada kemampuan membaca, berhitung, menulis, cara berpikir, mendengar dan berbicara. Menurut Riska Herliafifah: 2021, sebagian besar gangguan belajar terjadi akibat adanya gangguan terhadap perkembangan otak anak, entah ketika anak berada di dalam kandung, saat lahir, ataupun ketika berusia balita.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan seorang anak mengalami gangguan perkembangan otak yaitu:
Ibu mengalami komplikasi saat masa kehamilan.
Terjadi masalah ketika persalinan, sehingga membuat oksigen tidak diterima oleh si bayi dan menyebabkan otaknya terganggu.
Ketika balita, anak mengalami sakit yang keras seperti meningitis atau trauma pada bagian kepala.
Faktor genetik dari keluarga yang memiliki kesulitan belajar.
Trauma fisik seperti kecelakaan yang membuat mengganggu proses belajar anak.
Trauma psikologi, seperti kekerasaan saat masih kecil yang berpengaruh pada perkembangan otak.
Keterlambatan yang terjadi bisa bersifat fungsional yang tidak berbahaya, atau merupakan tanda adanya kerusakan pada susunan saraf, seperti cerebral palsy atau gangguan sistem motorik yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak yang mengatur kemampuan gerak otot-otot tubuh, perdarahan otak, asfiksia atau bayi tidak langsung menangis saat lahir, benturan atau trauma kepala yang berat, serta adanya kelainan sumsum tulang belakang dan gangguan saraf tepi atau penyakit saraf tepi atau poliomielitis yang menyebabakan kelumpuhan serta penyakit otot atau distrofia muskulorum.
Ada beberapa pendapat para Ahli tentang hambatan perkembangan motorik pada anak berkebutuhan khusus :
1. Dr. Robert L. Williams – Psikologi Perkembangan
Dr. Williams menyatakan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus sering mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik karena adanya gangguan dalam proses sensorimotor. Ia berpendapat bahwa keterlambatan ini dapat disebabkan oleh masalah dalam integrasi sensorik, di mana anak kesulitan mengintegrasikan informasi sensorik yang diterima dari lingkungan untuk merespon dengan gerakan yang tepat.
2. Dr. Nancy J. Cohen – Terapi Fisik dan Motorik
Dr. Cohen menjelaskan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus mungkin mengalami gangguan motorik karena adanya kelainan struktural atau fungsional pada sistem muskuloskeletal mereka. Dia merekomendasikan penggunaan pendekatan interdisipliner untuk menilai dan mengatasi masalah ini melalui terapi fisik yang disesuaikan dengan kebutuhan individu anak.
3. Dr. Ann Jeanette Bianchi – Terapi Okupasi
Dr. Bianchi menekankan bahwa hambatan motorik pada anak berkebutuhan khusus sering kali terkait dengan disfungsi dalam sistem neuromuskular. Ia mengungkapkan bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus mungkin mengalami masalah dalam koordinasi gerakan, kekuatan otot, dan kontrol motorik halus. Terapi okupasi berfokus pada meningkatkan kemampuan motorik dengan latihan-latihan yang dirancang untuk mengatasi disfungsi ini.
Cara Mengatasi Gangguan Hambatan Motorik pada Anak dengan Berkebutuhan Khusus
Derina Asta dalam artikelnya menyebutkan bahwa ada beberapa cara dalam mengatasi gangguan hambatan motorik pada anak berkebutuhan khusus, yaitu: (Novita, 2022)
Mengajak anak lebih aktif
Untuk bisa mencari cara dalam mengatasi gangguan kosentrasi ini, orang tua pasti melakukan berbagai cara, salah satunya yang bisa kita lakukan adalah dengan mengajak anak-anak lebih aktif untuk menggerakan tubuhnya, karena dengan begini otak anak pun akan terus bekerja dengan baik sehingga bisa lebih termotivasi.
Menyingkirkan gadget
Saat ini penggunaan gadget sangat bisa mempengaruhi gangguan konsentrasi yang seringkali terjadi pada anak, sehingga saat jam belajar sebaiknya orang tua menyingkirkan segala macam gadget yang ada pada anak, mematikan televisi dan menyita smartphone anak sementraa waktu juga bisa membuatnya jauh lebih berkonsentrasi, sehingga orang tua harus mencari bagaimana agar cara membuat anak fokus dan konsentrasi.
Mencari metode belajar dan melakukan terapi pada anak
Setiap anak memiliki cara belajarnya masing-masing, dan biasanya untuk waktunya pun berbeda-beda, sebagai orang tua kita juga harus paham dan juga mengerti agar anak bisa lebih baik dalam kegiatan belajarnya, untuk itu carilah metode yang memang tepat dalam melakukan kegiatan belajar pada anak. Karena hal ini juga bisa sangat membantu anak dalam meningkatkan konsentrasi belajarnya, dengan menemukan metode psikologi pendidikan yang baik dan tepat bisa membantu anak lebih focus. Terapi yang dapat dilakukan yaitu:
Terapi Fisik (PT): Terapis fisik dapat membantu mengembangkan kekuatan otot, koordinasi, dan keseimbangan. Program terapi fisik bisa mencakup latihan untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar seperti berjalan, berlari, dan melompat.
Terapi Okupasi (OT): Terapis okupasi dapat membantu anak dengan keterampilan motorik halus, seperti menulis, menggunakan peralatan makan, atau aktivitas sehari-hari lainnya. Mereka juga dapat memberikan latihan untuk meningkatkan koordinasi tangan-mata.
Terapi Bicara dan Bahasa: Jika gangguan motorik mempengaruhi kemampuan berbicara atau keterampilan bahasa, terapi bicara bisa menjadi bagian dari rencana perawatan.
5. Memberikan lingkungan yang baik
Lingkungan yang ada di rumah pasti akan sangat berpengaruh terhadap konsentrasi belajar anak, sehingga orang tua pun harus bisa memberikan lingkungan yang baik agar anak bisa lebih berkonsentrasi dalam kegiatan belajarnya, biasanya lingkungan yang berisik dan hiruk pikuk banyaknya kendaraan yang lalu lalang juga bisa sangat menganggu perhatian anak, sehingga foksunya pun bisa kemana-mana, untuk itu berikan lingkungan yang baik untuk anak agar anak pun bisa konsentrasi dengan baik dalam belajar dan juga bisa membuat perkembangan atensi anak lebih baik.
Memberikan motivasi dan juga minat belajar yang baik
Sebelum menyuruh anak belajar, sebaiknya orang tua bangkitkan terlebih dahulu motivasi dan juga minat belajar anak, beritahukan mengenai mata pelajaran yang harus dikerjakannya, apa manfaatnya yang bisa dia dapatkan saat belajar mengenai sesuatu hal, sehingga semangat dan juga minat belajar anak pun nantinya akan tumbuh dan bisa lebih focus dalam melakukan setiap hal yang harus dilakukannya.
7. Sumber Daya dan Dukungan
Kelompok Dukungan: Bergabung dengan kelompok dukungan untuk orang tua dari anak dengan kebutuhan khusus bisa memberikan informasi tambahan, dukungan moral, dan berbagi pengalaman dengan orang tua lain yang menghadapi tantangan serupa.
Sumber Daya Online dan Komunitas: Ada banyak sumber daya online dan komunitas lokal yang menyediakan informasi, panduan, dan dukungan untuk orang tua dan profesional.
8. Edukasi dan Pemberdayaan Keluarga
Pelatihan untuk Orang Tua: Keluarga perlu diberdayakan dengan pengetahuan tentang cara mendukung anak mereka di rumah, termasuk teknik-teknik latihan motorik dan strategi untuk mengatasi tantangan sehari-hari.
Dengan pendekatan yang terstruktur dan dukungan yang konsisten, anak dengan gangguan motorik dapat memperoleh kemajuan signifikan dalam kemampuan motorik mereka. Penting untuk bekerja sama dengan berbagai profesional dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk mendukung perkembangan anak secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Sefriyanti, S., & Putro, K. Z. (2022). Analisis Hambatan Perkembangan Motorik Pada Anak Berkebutuhan Khusus (Kajian Pada Perspektif Psikologi dan Neurologi). PRESCHOOL: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(2), 62-72.
Mandas, A. L., Lausan, M. L., & Dampi, S. V. (2021). Hambatan Perkembangan pada Anak TK. Journal of Psychology Humanlight, 2(2), 41-58.
Dewi, I. D. A. L., Asril, N. M., & Wirabrata, D. G. F. (2021). Instrumen Asesmen Untuk Mengukur Perkembangan Fisik Motorik Kasar pada Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Undiksha, 9(3), 416-422.
Muhammad, N., Yusriani, Y., & Habo, H. (2020). Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Perkembangan Motorik Anak Balita Stunting Di Kabupaten Halmahera Selatan Tahun 2020. Journal of Aafiyah Health Research (JAHR), 1(1), 58-72.
Syawalia, G. F. F., Rahman, T., & Giyartini, R. (2022). Studi literatur: Media pembelajaran yang digunakan untuk perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun. PAUDIA: Jurnal Penelitian dalam Bidang Pendidikan Anak Usia Dini, 11(2), 510-521.
Bianchi, A. J. (2011). Occupational Therapy for Children and Adolescents. Elsevier Health Sciences.

Komentar
Posting Komentar